PERKEMBANGAN MORAL CHILDHOOD

Moral adalah nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi pedoman seseorang dalam berperilaku. Ada 4 bahaya umum dalam perkembangan moral selama periode awal masa kanak-kanak yaitu disiplin yang tidak konsisten memperlambat proses untuk belajar menyesuaikna diri dengan harapan sosial; jika anak tidak mendapat teguran dari perbuatan yang melanggar maka hal ini akan mendorong anak untuk terus mempertahankan perilaku yang salah; terlampau banyak penekanan pada hukuman pda perilaku yang salah dan terlampau sedikit penekanan pada sikap yang kurnag baik kepada orang-orang yang berkuasa, anak lebih sering dihukum daripada diberi hadiah akan menjadi pemberontak dan ingin menentang orang yang menghukumnya; anak yang terkena disiplin otoriter tidak dapat mengembangkan pengendalian internal terhadap perilaku yang membentuk dasar bagi perkembangan lebih lanjut hati nurani.

Perkembangan sosial hampir dapat dipastikan juga perkembangan moral, sebab perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial.

Piaget dan Kohlberg (tokoh psikologi) menekankan bahwa pemikiran moral seorang anak, terutama ditentukan oleh kematangan kapasitas kognitifnya. Sedangkan di sisi lain, lingkungan sosial merupakan pemasok materi mentah yamg akan diolah oleh ranah kognitif anak secara aktif. Dalam interaksi sosial dengan teman-teman sepermainan sebagai contoh, terdapat dorongan sosial yang menantang anak tersebut untuk mengubah orientasi moralnya.

Tabel 1

Teori Dua Tahap Perkembangan Moral Versi Piaget

Usia Tahap Ciri Khas
4-7 tahun

 

 

 

7-10 tahun

 

 

11 tahun ke atas

Realisme moral

(pra-operasional)

 

 

Masa transisi (konkret-operasional)

 

Otonomi moral, realisme, dan resiprositas (formal-operasional)

  1. Memusatkan pada akibat-akibat perbuatan
  2. Aturan-aturan tak berubah
  3. Hukuman atas pelanggaran bersifat otomatis

 

Perubahan secara bertahap kepemilikan moral tahap kedua

 

  1. Mempertimbangkan tujuan-tujuan moral
  2. Menyadari bahwa aturan moral adalah kesepakatan tradisi yang dapat berubah

 

Tabel 2

Teori Enam Tahap Perkembangan Pertimbangan Moral versi Kohlberg

Tingkat Tahap Konsep Moral
Tingkat I

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tingkat II

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tingkat III

Moralitas prakonvensional

(usia 4-10 tahun)

Tahap 1 : memperhatikan ketaatan dan hukum

 

 

Tahap 2 : memperhatkan pemuasan kebutuhan

 

 

Moralitas konvensianal

(usia 10-13 tahun)

Tahap 3 : memperhatikan citra “anak baik”

 

 

 

 

Tahp 4 : memperhatikan hokum dan peraturan

 

 

Moralitas pascakonvensional

(usia 13 tahun ke atas)

Tahap 5 : memperhatikan hak perseorangan

 

 

 

 

 

Tahap 6 : memperhatikan prinsip-prinsip etika

  1. Anak menenentukan keburukan perilaku berdasarkan tingkat hukuman akibat keburukan tersebut.
  2. Perilaku baikdihubungkan dengan penghindaran dari hukum.

 

  1. Perilaku baik dihubungkan dengan pemuasan keinginan dan kebutuhan tanpa mempertimbangan kebutuhan orang lain.

 

  1. Anak dan remaja berperilaku sesuai dengan aturan dan patokan moral agar mamperoleh persetujuan orang dewasa, bukan untuk menghindari hukuman.
  2. Perbuatan baik dan buruk dinilai berdasarkan tujuannya. Jadi, ada perkembangan kesadaran terhadap perlunya aturan.

 

  1. Anak dan remaja memiliki sikap pasti terhapdap wewenang dan aturan.
  2. Hikum harus ditaati oleh semua orang.

 

  1. Remaja dan dewasa mengartikan perilaku perilaku dengan hak pribadi sesuai dengan aturan dan patokan sosial.
  2. Perubahan hukum dan aturan dapat diterima jika diperlukan untuk mencapai hal-hal yang paling baik.
  3. Pelanggaran hukum dan aturan dapat terjadi karena alasan-alasan tertentu.
  4. Keputusan mengenai perilaku-perilaku sosial di dasarkan atas prinsip-prinsip moral pribadi yang bersumber dari hukum universal yang selaras dengan kebaikan umum dan kepentingan oran lain.
  5. Keyakinan terhadap moral pribadi dan nilai-nilai tetap melekat, meskipun sewaktu-waktu berlawanan dengan hokum yang dibuat untuk mengekalkan aturan sosial.

Contoh: seorang suami yang tak beruang boleh jadi akan mencuri obat untuk menyelamatkan nyawa istrinya dengan keyakinan bahwa melestarikan kehidupan manusia itu merupakan kewajiban moral yang lebih tinggi daripada mencuri itu sendiri .

PERKEMBANGAN SOSIAL DAN EMOSIONAL CHILDHOOD


  1. Perkembangan Sosial

Departemen pendidikan dan kebudayaan (1997) menyatakan bahwa perkembangan sosial adalah suatu proses perubahan yang berlangsung secara terus-menerus menuju pendewasaan yang memerlukan adanya komunikasi dengan masyarakat. Masa kanak-kanak merupakan awal kehidupan sosial yang berpengaruh pada anak, diamana anak akan belajar mengenal dan menyukai orang lain melalui aktifitas sosial. Apabila pada masa kanak-kanak ini anak mampu melakukan hubungan sosial dengan baik akan memudahkan bagi anak dalam melakukan penyesuaian sosial dengan baik dan anak akan mudah diterima sebagai anggota kelompok sosial di tempat mereka mengembangkan diri (Hurlock,1998).

Perkembangan sosial anak adalah tahapan kemampuan anak dalam berperilaku sesuai dengan harapan lingkungan (Hurlock,1998). Usia Childhood dibagi atas 2 bagian yaitu Early Childhood usia 2-6 tahun (masa prasekolah) dan Childhood usia 6-12 tahun (masa sekolah). Masa prasekolah (6 tahun-12 tahun) menurut Munandar (1992) merupakan masa-masa untuk bermain dan mulai memasuki masa taman kanak-kanak. Waktu bermain merupakan sarana untuk tumbuh dalam lingkungan dan kesiapannya dalam belajar formal maupun non formal (Gunarsa,2004). Dan faktor yang mempengaruhi perkembangan sosial yaitu keluarga dan di luar keluarga.

  1. Sosialisasi pada awal masa anak-anak

Dasar sosialisai diletakkan dengan meningkatnya hubungan antara anak dengan teman sebayanya. Pola sosialisasi awal antara 2-3 tahun anak menunjukkan minat yang nyata untuk melihat anak-anak lain dan berusaha mengadakan kontak sosial dengan mereka. Ini dikenal sebagai bermain sejajar, perkembangan berikutnya bermain asosiatif dan bermain kooperatif.

  1. Pola Sosial
    1. Meniru
    2. Persaingan
    3. Simpati
    4. Empati
    5. Dukungan Sosial
    6. Membagi
    7. Perilaku akrab
  2. Bentuk Perilaku awal dalam berbagai situasi sosial

Dalam penelitian longitudinal terhadap sejumlah anak, Waldrop dan Halverson melaporkan bahwa anak yang pada usia 2,5 tahun bersikap ramah dan aktif secara sosial akan terus bersikap seperti itu sampai usia 7,5 tahun, sehingga disimpulkan sikap sosial pada 7,5 tahun, sehingga disimpulkan sikap sosial pada 7,5 tahun diramalkan oleh sikap sosial pada 2,5 tahun.

  1. Ciri-ciri perkembangan sosial anak umur 4-6 tahun (Piaget,1998)
    1. Usia 4 tahun
  • Sangat antusias
  • Lebih suka bekerja dengan 2 atau 3 teman yang dipilih
  • Suka memakai baju orang tua atau orang lain
  • Dapat membereskan alat permainannya
  • Tidak suka dipegang tangannya
  • Menarik perhatian karena dipuji
  1. Usia 5 tahun
  • Senang dirumah dekat ibu
  • Ingin disuruh atau penurut
  • Senang pergi kesekolah
  • Senang berangkat dan pulang sekolah
  • Kadang-kadang malu dan sukar bicara
  • Bermainn dengan kelompok 2 atau 5 orang
  • Terpacu oleh kompetisi dengan anak lain
  1. Usia 6 tahun
  • Mulai lepas dari sang ibu
  • Menjadi pusatnya sendiri
  • Mementingkan diri sendiri
  • Antusiasme yang implusif dan kegembiaraan yang meluap-luap menular ke teman.
  • Dapat menjadi faktor pengganggu dikelas
  • Ada kecenderungan berlari lepas dihalaman sekolah
  • Menyukai pekerjaannya dan selalu ingin membawa pulang

Di dalam perkembangan sosial anak sebaiknya orang tua memberikan kehangatan dan kasih sayang sehingga mempengaruhi kemampuan anak berinteraksi dengan lingkungan dimana apabila anak kurang mendapatkan kehangatan dan kasih sayang anak cenderung merasa takut mencoba, malu bertemu dengan orang lain (Herlimsyah, 2007).

  1. Perkembangan Emosional

Menurut L. Crow & A. Crow, emosi adalah pengalaman yang afeektif yang disertai oleh penyesuaian batin secara menyeluruh, dimana keadaan menttal dan fisiologi sedang dalam kondisi yang meluap-luap, juga dapat diperlihatkan dengan tingkah laku yang jelas dan nyata. Timbulnya suatu emosi disebabkan oleh :

  1. Rangsangan yang menimbulkan emosi

Rangsangan yang timbul dari stimulus. Adapun rangsangan dapat muncul dari dorongan, keinginan/minat yang terhalang, baik disebabkan oleh tidak atau kurangannya kemampuan individu untuk memenuhinya.

  1. Perubahan fisik/fisiologis

Perubahan fisik/fisiologis dipengaruhi oleh rangsangan yang menimbulkan emosi. Dimana akan menimbulkan perubahan urat-urat di dalam tubuh, misalkan marah, cemburu, bingung, dll.

Anak yang berumur antara 6-12 tahun biasanya memperlihatkan penyesuaian diri yang luar biasa terhadap lingkungan sosialnya yang selalu berubah. Pada umur 6 tahun anak tersebut mengalami kebingungan karena taraf kesadaran sosial dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan pola sosial yang diterima disekolah berbeda dengan pengalaman yang diterima sebelumnya seperti tingkat perkembangan fisiknya, tingkat ketajaman mental tipenya.

Anak yang berumur 2,5 tahun -3 tahun adalah masa penting bagi anak untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian langsung dari orangtuanya sendiri. Anak usia 9 tahun-12 tahun anak tadi harus dibimbing atau dibantu untuk ikut serta mengambil bagian dalam kerja kelompok agar dapat bekerja sama dengan temannya dengan baik. Masa kanak-kanak (childhood) terjamin tidaknya kesempatan untuk berprakarsa dalam menumbuhkan inisiatif sebaliknya bila sering dilarang akan timbul rasa bersalah dan berdoasa (quilty). Usia Childhood lebih cenderung menghasilkan sebagian besar waktunya bermain dengan mainannya. Usia 2 tahun-4 tahun sudah mempunyai pengertian sederhana mengenai kenyataan sosial dan fisik tetapi masih sangatkurang untuk menghadapi cakrawala sosial serta lingkungan fisik yang semakin luas.

Hubungan emosional masih membutuhkan kasih syang tetapi anak-anak harus belajar memberi dan menerima kasih sayang. Singkatnya, ia harus belajar terikat keluar dari pada dirinya sendiri. Selama awal masa kanak-kanak emosinya kuat dan tidak seimbang. Emosi pada awal masa anak-anak ditandai oleh ledakan amarah yang kuat, ketakutan yang hebat dan iri hati yang tidak masuk akal. Emosi yang umum pada masa awal anak-anak adalah amarah, takut, cemburu, ingin tahu, iri hati, gembira, sedih dan kasih sayang.

PERKEMBANGAN BAHASA CHILDHOOD

Sebelum ke perkembangan bahasa, apa sih pengertian dari bahasa itu? Bahasa itu tentunya untuk alat komunikasi dengan orang lain. Bahasa itu sangat penting bagi manusia, karena manusia adalah makhluk sosial yang berinteraksi dengan lingkungannya.

Menurut Yusuf (2001) periode late childhood merupakan masa berkembang dengan pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata. Banyaknya kosakata yang dipelajari dan dimiliki menjadi salah satu ciri perkembangan bahasa pada masa ini antara lain : kosakata etiket, warna, bilangan, uang, waktu, kata populer dan makian serta kosakata simbol atau rahasia. (Hurlock, 1996).

Pada tahap childhood seorang anak akan mengungkapkan berbagai ide dan menggambarkan peristiwa yang rumit. Kadang-kadang anak masih akan memiliki cadel atau ‘benjolan’ dalam perkembangan bicaranya. Pada tahap ini, anak Anda akan dapat melakukan, antara lain sebagai berikut :

  • percaya diri menggunakan telepon (sekitar usia delapan)
  • mengerti penggunaan waktu yang berbeda (masa lalu, sekarang dan masa depan) dan dapat menggunakannya secara tepat dalam kalimat
  • ingin menceritakan lelucon dan teka-teki
  • menikmati membaca buku sendiri.
  1. Perkembangan bahasa

Kemampuan berbahasa adalah kemampuan yang khas yang dimiliki oleh manusia, hal inilah yang membedakan manusia dengan hewan atau makhluk hidup yang lainnya. Dengan menggunakan bahasanya manusia dapat   :

1)    Mencatat dan menyimpan berbagai hasil pengalaman pengamatannya berupa kesan dan tanggapan, informasi, fakta, dan data.

2)    Mentransformasikan dan mengolah berbagai bentuk informasi tersebut diatas melalui proses berpikir dan dengan mempergunakan kaidah-kaidah logika dalam rangka pemecahan masalah dan mencari, mengkreasikan dan menemukan hal-hal baru.

3)    Mengkoordinasikan dan mengekspresikan cita-cita, sikap, penilaian, dan pengkhayatan (etis, estetis ekonomis, sosial, politis, religius, dan kultural.

4)    Mengkomunikasikan (menyimpan dan menerima) berbagai informasi, buah fikiran, opini, sikap, penilaian, aspirasi, kehendak, dan rencana kepada orang lain.

 

  1. Indikator Perkembangan Bahasa

Kita dapat memahami perkembangan bahasa itu dengan mengidentifikasikan beberapa indikatornya, antara lain : jumlah perbendaharaan kata, jenis, struktur, dan bentuk kalimat, isi yang dikandungnya; gambar atau lukisan, bentuk gerakan-gerakan tertentu yang bersifat ekspresif. Dengan menggunakan berbagai indikator tersebut maka dapatlah dideskripsikan perkembangan bahasa pada manusia itu, sebagai berikut  :

  1. Pada masa kanak-kanak, individu sudah mengenal dan menguasai sejumlah perbendaharaan kata. Usia sekitar 3-4 tahun perbendaharaannya sekitar 300 dan pada usia sekitar 6-7 tahun mencapai 2.500 kata, bahkan dapat diduga lebih dari jumlah tersebut. (Lefrancois, 1975:186; Crow and Crow, 1956:65)
  2. Pada masa anak sekolah, dengan dikuasainya ketrampilan membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, maka pada periode 6-8 tahun ia dengan senang hati sekali membaca atau mendengar dongeng fantasi; usia 10-12 gemar cerita yang bersifat kritis (tentang perjalanan, riwayat para pahlawan, dan sebagainya).
  3. Proses Perkembangan Bahasa

Para ahli sependapat bahwa pembentukan bahasa pada anak sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor latihan dan motivasi (kemauan) untuk belajar dengan melalui proses conditioning dan reinforcement. (Lefrancois, 1975)

Meskipun isi dan jenis bahasa yang dipelajari oleh manusia itu berbeda-beda, namun terdapat pola urutan perkembangan yang bersifat universal dalam proses perkembangan bahasa itu, ialah mulai dengan meraba, lalu bicara monolog (Pada dirinya atau benda mainannya), haus nama-nama, kemudian gemar bertanya (5W+1H). Yang tidak selalu harus dijawab, membuat kalimat sederhana, bahasa ekspresif (dengan belajar menulis, membaca dan menggambar permulaan).

  1. Aspek-Aspek Perkembangan Bahasa

Pada masa anak berusia 2-3 tahun aspek-aspek perkembangan bahasa yang dimilikinya adalah:

  1. Merespon bila dipanggil namanya
  2. Mengenal suara disekitarnya (orang-orang terdekat, binatang, benda)
  3. Menyatakan 2 kata yang bermakna
  4. Mengerti dan melaksanakan satu perintah.
  5. Mengajukan pertanyaan
  6. Menyebutkan nama benda
  7. Tertarik dalam gambar pada buku.

Pada masa anak berusia 3-4 tahun aspek-aspek perkembangan bahasa yang dimilikinya adalah:

  1. Mengenal, menirukan dan mengetahui suara-suara benda dan binatang
  2. Menyatakan dengan 4-5 kata
  3. Mengerti dan melaksanakan 2 perintah
  4. Mengajukan pertanyaan lebih banyak
  5. Menyebutkan nama benda dan fungsi
  6. Minta dibacakan buku

 

Pada masa anak berusia 4-5 tahun aspek-aspek perkembangan bahasa yang dimilikinya adalah:

  1. Membedakan berbagai jenis suara
  2. Mengenal masing-masing bunyi huruf
  3. Menyatakan dengan 6-10 kata
  4. Mengerti dan melaksanakan 3 perintah
  5. Menjawab dengan kalimat lengkap
  6. Menyebutkan nama benda dan fungsi beserta sifatnya
  7. Belajar membaca
  8. Memecahkan masalah dengan berdialog (sebab-akibat).

Perkembangan bahasa pada usia sekolah yaitu antara lain, penggunaan bahasa pada anak, aspek pada penggunaan bahasa adalah narasi dan percakapan. Umumnya pada usia ini, tugas komunikasi menjadi kompleks dan sulit, sehingga anak-anak usia ini mengalami kesulitan untuk memahami perasan orang lain, lalu anak usia 5-6 tahun cenderung kurang mampu mengkomunikasikan informasi dari anak yang lebih tua, jadi informasi yang abstrak belum mampu dikomuikasikan pada anak-anak. Lalu meningkatnya jumlah perbendaharaan dan spesifikasi definisi. Yaitu dalam masa pertumbuhan pemahaman kata dan hubungannya berlangsung terus menerus, sehingga mereka dapat memperkaya perbendaharaan katanya lebih banyak melalui bacaan-bacaan yang sifatnya konstekstual, peningkatan tersebut mungkin setelah kelas empat SD. Namun walaupun terjadi peningkatan perbendaharaan kata tidak selalu anak dapat memahami makna suatu kata atau kalimat. Karena, dapat terjadi bila anak tidak menguasai perbendaharaan dari semua kata di dalam kalimat, tapi anak itu dapat memahami makna kata atau kalimat secara tepat. Sebaliknya, anak yang menguasai arti dari seluruh kata dalam suatu kalimat tertentu tidak dapat memahami makna kata atau suatu kalimat. Untuk itu dalam memaknai suatu kata ataupun kalimat diperlukan lebih banyak kemampuan menjustifikasi suatu kata atau kalimat dari pada sekedar mengetahui arti kata.

Perkembangan bahasa selama masa anak-anak awal, perkembangan bahasa terus berlanjut. Perbendaharaan kosa kata dan cara menggunakan kalimat bertambah kompleks. Perkembangan ini terlihat dalam cara berpikir tentang kata-kata, struktur kalimat dan secara bertahap anak akan mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat dan padat, serta dapat menerapkan berbagai aturan tata bahasa secara tepat.

 

E. Kemajuan Berbicara Dalam Awal Masa Kanak-Kanak

Pada saat anak-anak berusia 2 Tahun, mereka tidak lagi mengoceh dan tangisnya  mereka sudah berkurang. Selama masa awal kanak-kanak, mereka memiliki keinginan yang kuat untuk belajar berbicara. Hal ini disebabkan karena 2 hal yaitu berbicara merupakan sarana pokok sosialisasi dan berbicara merupakan sarana untuk memperoleh kemandirian. Untuk meningkatkan komunikasi, anak-anak harus menguasai 2 tugas pokok yang merupakan unsur penting dalam belajar bicara. Pertama, mereka harus meningkatkan kemampuan untuk mengerti apa yang dikatakan orang lain dan kedua, mereka harus meningkatkan kemampuan berbicaranya sehingga dapat dimengerti orang lain.

  • Peningkatan dalam pengertian

Kemampuan mengerti sangat dipengaruhi cara anak mendengarkan apa yang dikatakan kepadanya. Mendengarkan radio dan televisi ternyata sangat membantu karena mendorong anak untuk mendengarkan. Disamping itu kalau orang berbicara dengan lambat dan jelas, menggunakan kata-kata yang sekiranya dapat dimengerti juga dapat mendorong anak untuk mendengarkan dengan baik.

  • Peningkatan dalam ketrampilan berbicara

Awal masa kanak-kanak umumnya merupakan saat berkembang pesatnya penguasaan tugas pokok dalam belajar yaitu pengucapan kata-kata, menambah kosakata dan membentuk kalimat. Ada bukti bahwa anak muda belia sekarang berbicara lebih baik dari pada generasi sebelumnya. Menurut Mc.Carthy (1995) hal ini disebabkan karena berkembangnya radio dan televisi, semakin banyaknya kebersamaan orang tua dan anak, membaiknya kondisi ekonomi dan berkurangnya jumlah waktu anak dalam pengasuhan pengasuh berkemampuan terbatas. Bukti yang lain adalah orang tua masa kini, terutama ibu lebih banyak bicara dengan anak-anak karena ibu lebih banyak mempunyai waktu luang dan semakin banyak anak berhubungan dengan teman sebayanya.

F. Isi pembicaraan

Pada awalnya, pembicaraan anak-anak bersifat egosentris. Menjelang akhir awal masa kanak-kanak mulailah pembicaraan bersifat sosial dan berbicara tentang orang lain disamping dirinya sendiri, namun banyak dari pembicaraan sosial awal ini sebenarnya tidak bersifat sosial. Tetapi dengan bertambah besarnya kelompok bermain, pembicaraan anak lebih bersifat sosial dan tidak lagi egosentris.

G. Jumlah bicara

Awal masa kanak-kanak terkenal sebagai masa tukang ngobrol, karena sekali anak-anak dapat berbicara dengan mudah, ia tak putus-putusnya berbicara. Faktor yang mempengaruhi banyaknya anak berbicara adalah intelegensi, jenis disiplin, posisi urutan, besarnya keluarga, status social ekonomi, status ras, berbahasa dua, dan penggolongan peran seks.

PERKEMBANGAN KOGNITIF CHILDHOOD

Kognisi  adalah tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengertian atau yang dibutuhkan untuk menggunakan pengertian.

Menurut Piaget perkmbangan kognitif childhood dibedakan menjadi :

  1. Stadium pra-operasional (± 18 bulan- 7 tahun)

Stadium operasional dimulai dengan penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolis, imitasi (tidak langsung) serta bayangan dalam mental. Proses ini menunjukkan bahwa anak sudah mampu untuk melakukan tingkah laku simbolis. Anak sekarang tidak lagi mereaksi begitu saja terhadap stimulus-stimulus melainkan nampak ada suatu aktivitas internal.

Anak mampu untuk berbuat pura-pura, artinya dapat menimbulkan situasi-situasi yang tidak langsung ada. Ia mapu menirukan tingkah laku yang dilihatnya (imitasi) atau tingkah laku yang dilihatnya sehari sebelumnya (imitasi tertunda). Anak dapat mengadakan antisipasi, misalnya ia sekarang dapat mengatakan bahwa menaranya belum selesai karena ia tahu menara yang bagaimana yang akan ia buat. Ia mampu untuk mengadakan representasi dunia pada tingkatan yang konkrit. Tetapi meskipun adanya banyak aspek yang positif dalam cara berpikir pra-operasinal, namun masih banyak kekurangan juga.

Berpikir pra-operasional masih sangat egosentris. Anak belum mampu (secara perseptual, emosional-motivasional, dan konseptual untuk mengambil perspektif orang lain). Contoh : anak diajak ke lapangan balap mobil. Di lapangan tadi ada 3 buah mobil merah, putih, dan biru berjajar. Bila anak diminta untuk menyebutkan urutan mobil tadi dari sudut pandangan orang lain yang berdiri di seberang sebaliknya, maka ia akan menjawab dari sudut perpektifnya sendiri.

Cara berpikir pra-operasional sangat memusat (centralized). Bila anak dikonfrontasi dengan situasi yang multi-dimensional, maka ia akan memusatkan perhatiannya hanya pada satu dimensi saja dan mengabaikan dimensi-dimensi yang lain dan akhirnya juga engabaikan hubungannya natara dimensi-dimensi ini.

Berpikir pra-operasional adalah tidak dapat dibalik (ir-rever-sable). Anak belum mampu untuk meniadakan suatu tindakan dengan memikirkan tindakan tersebut dalam arah yang sebaliknya

  1. Stadium operasional konkrit (7 – 11 tahun)

stadium operasional konkrit dapat digambarkan sebagai menjadinya positif ciri-ciri yang negatif pada stadium berpikir pra-operasional. Cara berpikir anak yang operasional konkrit kurang egosentris. Ditandai dengan desentrasi yang besar, artinya anak sekarang misalnya sudah mampu untuk memperhatikan lebih dari satu  dimensi sekaligus dan juga  utnuk menghubungan dimensi-dimensi ini satu sama lain. Anak sekarang juga memerhatikan aspek dinamisnya dalam perubahan situasi. Akhirnya ia juga mampu untuk mengerti operasi logisnya reversibilitas.

Namun ada juga kekurangannya dalam cara berpikir yang operasional konkrit. Hal ini sudah secara implisit ditunjukkna oleh istilah operasional konkrit. Naka mampu untuk melakukan aktivitas logis tertentu, tetapi hanya dalam situasi yang konkrit. Dengan perktaan lain bila anak diharapkan dengan suatu masalah secara verbal, yaitu tanpa adanya bahan yang konkrit, maka ia belum mampu untuk menyelesaikan masalah.

PERKEMBANGAN MOTORIK CHILDHOOD


Perkembangan motorik yaitu perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara saraf, otot otak (Harlimsyah, 2007). Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh menggunakan otot – otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri misalnya, kemampuan duduk, menendang, berlari, naik turun tangga. Sedangkan motorik halus merupakan gerakan yang menggunakan otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu yang dipengaruhi oleh kesempatan belajar dan berlatih, misalnya kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret – coret, menyusun balok, dan menulis. Perkembangan motorik kasar tergantung pada kematangan anak, sedangkan perkembangan motorik halus anak bisa dilatih.

  1. USIA 2 sampai 6 tahun

Saat usia 3 tahun kemampuan berjalan seorang anak sudah berkembang dengan baik, pada usia seperti ini anak sudah bisa berjalan secara otomatis. Bahkan pada alas yang tidak rata anak sudah dapat berjalan tanpa kesukaran. sudah dapat berlari dengan betul, tetapi belum mampu berhenti dengan cepat atau membalik. Antara usia 3 dan 4 tahun, naik sepeda roda tiga dan berenang dapat dipelajari. Keterampilan kaki lain yang dikuasai anak-anak adalah lompat tali, keseimbangan tubuh dalam berjalan di atas dinding atau pagar, sepatu roda, bermain sepatu es dan menari. Di awal umur 3 tahun keterampilan tangan belum terlalu terlatih, contohnya mereka masih susah untuk menangkap atau memukul bola. Sekitar usia 4 tahun anak sudah agak pandai melakukan hal itu.

Sekitar 4 tahun anak hampir menguasai cara berjalan orang dewasa. Kesulitan yang ada pada saat belajar berjalan berhubungan dengan kekuatan badannya, yaitu dapat menyandarkan seluruh berat badannya pada satu kaki. Pada usia 4 atau 5 tahun anak sudah dapat berlari seperti orang dewasa dan dapat menggunakan kemampuannya ini dalam aktivitas permainannya. Sesudah dapat berjalan dengan baik, anak juga belajar untuk berjalan memanjat dan menuruni tangga.

Antara usia 5 dan 6 tahun sebagian besar anak-anak sudah pandai melempar dan menangkap bola. Mereka dapat menggunakan gunting, dapat membentuk tanah liat, membuat kue-kue dan menjahit. Dengan krayon, pensil, dan cat anak-anak dapat mewarnai gambar, menggambar atau mengecat gambarnya sendiri dan dapat menggambar orang.

Perkembangan persepsual atau perkembangan pengamatan banyak yang dipengaruhi oleh pengaruh faktor – faktor keliling. Perkembangan pengamatan yang terjadi pada waktu ini adalah perkembangan pengamatan bentuk. Anak yang masih sangat muda lebih melihat secara keseluruhan daripada detail atau perinciannya. Baru sekitar 5-6 tahun anak melihat benda – benda secara khusus. Peralihan dari sifat pengamatan yang global kesifat pengamatan yang lebih khusus ini sampai lama merupakan kriteria pokok untuk aturan “masuk sekolah”.

Anak yang tidak dapat melihat secara terperinci, dianggap tidak mempunyai kemampuan untuk membeda – bedakan, dari itu juga belum mampu untuk pergi ke sekolah dan belajar di sekolah. Membaca dan menulis mengandung arti dapat memisahkan hal – hal yang khusus, memisahkan huruf – huruf dari kata – kata keseluruhan. Maka dari itu membaca juga dipelajarkan pada anak melalui kata – kata keseluruhan. Tetapi metode keseluruhan ini memberikan masalah – masalah dalam kelas 3. Anak mempunyai kesukaran – kesukaran membaca yang disebut schenk kelemahan membaca atau legasteni (Kerm,1954). Anak dengan kelemahan ini mempunyai kesukaran untuk memisahkan huruf dari kata – kata (Schenk – danzieger, 1971)

Latihan kebersihan juga termasuk perkembangan psikomotorik karena latihan kebersihan membutuhkan pemasakan urat – urat daging alat – alat pembuangan. Anak harus mampu untuk menguasai urat daging alat pembuangannya pada waktu hendak buang air kecil atau buang air besar. Tetapi anak baru mampu melakukan hal ini kurang lebih usia 15 bulan. Berhubung dengan itulah dapat dianggap tidak bertanggung jawab untuk memulai latihan kebersihan ini sebelum anak berusia 15 bulan. Bila latihan ini dilakukan sebelum anak berusia 15 bulan maka akan timbul pengalaman – pengalaman yang traumatis. Hal ini dapat mengakibatkan anak masih sering “ngompol”.

  1. USIA 6 sampai 12 tahun.

Sekitar 6 tahun terlihat bahwa badan anak bagian atas lebih lamban berkembangnya daripada badan bagian bawah. Anggota – anggota badan masih relatif pendek, kepala relatif besar, perutnya masih besar dan ada gigi susu (zeller, 1952; Hetzer, 1961).

Bila anak sudah mencapai bentuk anak sekolah maka ia akan lebih menyerupai bentuk orang dewasa daripada anak umur 2 tahun. Bertambahnya berat badan sebagian besar merupakan akibat bertambahnya jaringan urat daging. Dalam keseluruhannya maka keadaan jasmani anak akan menjadi lebih stabil dan lebih kuat.

Pada usia 5 tahun, keseimbangan badan anak sudah berkembang cukup baik, anak sudah pandai berjalan, dapat naik tangga, meloncat dari tanah dengan kedua kakinya bersama – sama dan sering juga sudah dapat bersepeda.

Sesudah usia 6 tahun, pertumbuhan badan menjadi agak lambat, daripada waktu sebelumnya. Sampai umur 12 tahun anak bertambah panjang 5 – 6 cm tiap tahunnya. Sampai umur 10 tahun dapat dilihat bahwa anak laki – laki agak lebih besar sedikit daripada anak perempuan, sesudah itu maka wanita lebih unggul dalam panjang badan tetapi sesudah kurang lebih 15 tahun anak laki – laki mengejarnya dan tetap unggul daripada anak perempuan.

Sekitar 6 tahun, kaki dan tangan menjadi lebih panjang, dada dan panggul lebih besar. Dalam hal ini hampir tidak ada perbedaan kerena jenis seks. Pada umumnya ada relasi yang tetap dalam perkembangan tulang dan jaringan. Dengan terus bertambahnya berat dan kekuatan badan dapat diharapkan bahwa kemampuan seperti lari, meloncat dan melempar akan bertambah dalam masa ini.

Pada umur 6 tahun keseimbangan badannya relatif berkembang baik, anak makin dapat menjaga keseimbangan badannya ( paling senang berjalan diatas dinding , pagar dan sebagainya.). penguasaan badan seperti membongkok, melakukan macam – macam latihan senam serta olahraga berkembang pada masa anak sekolah. juga berkembang koordinasi antara mata dan tangan (visio-motorik) yang dibutuhkan untuk membidik, menyepak, melempar dan menangkap.

Kekuatan badan dan kekuatan tangan pada anak laki – laki bertambah dengan pesat antara usia 6 dan 12 tahun. Dalam masa ini juga ada perubahan dalam sifat dan frekuensi motorik kasar dan halus.

PERKEMBAGAN FISIK CHILDHOOD


Perkembangan fisik adalah hasil dari perubahan bentuk dan fungsi dari organisme (Soetjiningsih, 2001). Perkembangan fisik berkaitan dengan perkembangan gerakan motorik yakni perkembangan pengendalian gerakan tubuh melalui kegiatan yang terkoordinir antara susunan saraf dan otot otak (Harlimsyah, 2007).

Perkembangan motorik meliputi motorik kasar dan halus. Motorik kasar adalah gerakan tubuh menggunakan otot-otot besar atau sebagian besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak itu sendiri misalnya kemampuan duduk, menendang, berlari, naik turun tangga. Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot halus atau sebagian anggota tubuh tertentu yang dipengaruhi oleh kesempatan belajar dan berlatih, misalnya kemampuan memindahkan benda dari tangan, mencoret-coret, menyusun balok, menulis. Perkembangan motorik kasar dan halus sangat diperlukan anak agar dapat berkembang optimal. Bedanya perkembangan motorik kasar tergantung kematangan anak sedangkan perkembangan motorik halus anak bisa dilatih. Anak yang perkembangannya kurang biasanya disebabkan stimulasi dari lingkungan yang kurang (Harlimsyah, 2007).

Pertumbuhan selama masa awal masa kanak-kanak berlangsung lambat dibanding dengan tingkat pertumbuhan pada masa bayi. Anak dengan tingkat kecerdasan yang tinggi, misalnya, tubuhnya cenderung lebih tinggi pada awal masa kanak-kanak daripada mereka yang kecerdasannya rata-rata atau di bawah rata-rata dan gigi sementaranya lebih cepat tanggal. Meskipun perbedaan seks tidak menonjol dalam peningkatan tinggi dan berat tubuh, tetapi pengerasan tulang dan lepasnya gigi sementara lebih cepat pada anak perempuan, dari usia ke usia. Anak dari kelompok sosial ekonomi yang lebih tinggi cenderung memperoleh gizi dan  perawatan yang lebih baik sebelum dan sesudah kelahiran. Oleh karena itu, perkembangan tinggi, berat dan otot-otot badan cenderung lebih baik.

Anggota-anggota badan tumbuh dengan kecepatan yang berbeda-beda. Perlu dilihat pula bahwa tiap anak mempunyai tempo perkembangannya sendiri, meskipun ada norma-norma yang dapat dipakai sebagai ukuran perkembangan normal. Umur kerangka (skelet) dapat dilihat dari pergeseran tulang pada tangan anak. Seorang anak dapat mempunyai umur kerangka 4 tahun sedangkan umur kronologisnya adalah 6 tahun.

Proporsi badan dan jaringan urat daging dapat dikatakan tetap sampai kurang lebih tahun kelima. Sekitar tahun kelima mulailah apa yang disebut “gestaltwandel” pertama (Zeller, 1936). Hal ini berarti bahwa anak yang sampai sekarang mempunyai kepala yang relatif besar dan anggota badan yang pendek akan mulai mempunyai proporsi badan yang seimbang. Anggota-anggota badannya menjadi lebih panjang, perutnya mengecil dan kepalanya dibanding dengan bagian-bagian badan yang lain mendapatkan proporsi yang normal. Semula jaringan-jaringan tulang dan urat daging lebih berkembang, menjadi lebih berat. Jaringan lemak bertambah lebih lambat. Selama tahun kelima nampak perkembangan jaringan urat daging secara cepat (Gestaltwandel kedua mulai sekitar umur 10 tahun, yaitu pada aktu mulainya pubertas atau pada waktu  mulainya perkembangan seksualitas) (lihat Zeller, 1936)

Sekitar usia 3 tahun anak sudah dapat berjalan secara otomatis, bahkan pada alas yang tidak rata anak sudah dapat berjalan tanpa kesukaran. Sekitar 4 tahun anak hampir menguasai cara berjalan orang dewasa. Kesukaran yang ada pada belajar berjalan berhubungan dengan kekuatan badannya pada satu kaki. Masalah yang lain adalah perkembangan mekanisme keseimbangan yang dibutuhkan untuk dapat berjalan tegak. Mampu berlari dengan stabil atau berlari ditempat. Pada umur 5 tahun keseimbangan badan anak sudah berkembang cukup baik, anak sudah pandai berjalan, dapat naik tangga, meloncat dari tanah dengan kedua kakinya bersama-sama dan sering juga sudah dapat bersepeda.

Sesudah Gestaltwandel pertama, jadi sesudah usia 6 tahun pertumbuhan badan menjadi agak lambat, daripada waktu-waktu sebelumnya. Sampai umur 12 tahun anak bertambah panjang 5 sampai 6 cm tiap tahunnya. Sampai umur 10 tahun dapat dilihat bahwa anak laki-laki agak lebih besar sedikit daripada anak wanita, sesudah itu maka wanita lebih unggul dalam panjang badan, tetapi sesudah ± 15 tahun anak laki-laki mengejarnya dan tetap unggul daripada anak wanita.

Berat badan anak bertambah lebih banyak daripada panjang badannya. Pada akhir periode ini diketemukan lebih banyak perbedaan individual diantara anak-anak. Sekarang nampak lebih banyak perbedaan fisik yang khas daripada dulu. Jadi sekiitar 6 tahun, kaki dan tangan menjadi lebih panjang, dada dan panggul lebih besar. Keseimbangan badannya relatif berkembang baik, anak makin dapat menjaga keseimbangan badannya (paling senang berjalan diatas dinding, pagar dan sebagainya). Peguasaan badan seperti membongkok, melakukan macam-macam latihan senam. Juga berkembang koordinasi antara mata dan tangan (visio-motorik) yang dibutuhkan untuk membidik, menyepak, melempar dan menangkap.

Kekuatan badan dan kekuatan tangan pada anak laki-laki bertambah dengan pesat antara usia 6 dan 12 tahun. Dalam masa ini juga ada perubahan dalam sifat dan frekuensi motorik kasar dan halus.

CHILDHOOD (Masa kanak-kanak)

Riyanti (1996) pada buku psikologi umum I, mengatakan periode anak terbagi menjadi 2 tahapan, tahapan kanak-kanak awal (Early Childhood) dan kanak-kanak Akhir (Late Childhood).

a. Periode Early childhood dihitung sejak anak berusia 2 tahun sampai berusia 6 tahun. Dia mulai sadar bahwa sampai tahap tertentu dia dapat mengatasi lingkungannya tanpa bantuan dari oranglain. Ia juga semakin tahu bahwa ia tidak harus selalu tunduk pada lingkungan, entah itu suatu situasi, benda, atau orang tuanya sendiri. (Riyanti dkk,1996)

b. Late childhood masuk ke dalam fase anak sekolah (usia sekolah dasar) dimana anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif seperti membaca, menulis dan menghitung. (Yusuf, 2001) Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa yang disebut anak adalah individu antara umur 2 – 15 tahun yang terbagi menjadi 2 tahapan. Tahapan pertama yang disebut early childhood (gang-age) yaitu antara umur 2 – 6 tahun dan yang kedua yaitu tahapan late childhood (usia sekolah dasar) dimana anak berumur 6 – 15 tahun.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.